Seimbangkan Antara Hard Skill Dan Soft Skill

Hard Skill and Soft Skill
Penelitian dari universitas Harvard mengatakan bahwa kesuksesan seseorang dalam bidang apapun yang sedang ditekuni tak semata-mata karena kemampuan intelektual yang dimiliki (hard skill) namun juga kemampuan dalam mengelola emosi (soft skill). Bahkan secara gamblang penelitian tersebut juga menyebutkan bahwa 80% kesuksesan mayoritas manusia ditentukan oleh bagaimana cara ia mengelola emosinya dan sisanya baru ditentukan oleh hard skill.

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya menyamakan persepsi tentang hard skill dan soft skill.

  • Hard Skill adalah High-Precision Skill, yaitu keahlian melakukan sesuatu dengan tingkat ketepatan yang tinggi dan konsisten setiap waktu. Keahlian ini mencapai hasil yang dapat dilihat kasat mata dan dapat diasah ketepatannya melalui pengulangan yang cenderung ditemukan pada bidang spesialisasi-spesialisasi tertentu. Contohnya keahlian bermain alat musik, memprogram komputer, melukis, berlari cepat, membaca dengan cepat,  menguasai bahasa asing dan sebagainya.
  • Sedangkan Soft Skill adalah High-Flexibility Skill, yaitu keahlian melakukan sesuatu dengan tingkat fleksibilitas yang tinggi, artinya banyak jalan yang dapat ditempuh untuk menghasilkan sesuatu karena keahlian ini bukanlah tentang melakukan hal yang sama secara berulang-ulang. Soft skill cenderung lebih luas penerapannya. Contohnya adalah cara seseorang berpikir, bagaimana melakukan negosiasi, berkomunikasi, bagaimana seorang polisi bisa merasakan adanya bahaya, penyanyi yang bisa mengekspresikan emosi saat bernyanyi dan sebagainya.

Berdasarkan penelitian Harvard diatas, berarti soft skill memegang peranan yang sangat penting untuk kesuksesan. Saya sangat setuju dengan hal tersebut terlebih lagi kalau bicara tentang soft skill yang berkaitan erat dengan intrapersonal skill, karena ini adalah dasarnya supaya seseorang bisa maju. Tapi yang harus ditekankan juga adalah pentingnya memiliki hard-skill supaya orang melihat prestasi dan hasil secara nyata.  Tidak mau kan jadi atasan yang dicap penjilat atau ahli memanipulasi orang atau sebagai pembual karena hanya pandai berkomunikasi dan bernegosiasi sehingga anak buah menilai tidak mempunyai kemampuan hard skill yang mumpuni? Atau dicap beruntung karena mendapatkan posisi atasan karena sudah lama bekerja di suatu perusahaan dan tidak ada pengganti lain?

Nah bagi yang masih mengabaikan tentang pentingnya hard skill dan langsung menyimpulkan hard skill tidak penting, sebaiknya meninjau ulang pemikiran tersebut secara seksama. Bagaimanapun juga seimbang antara hard skill dan soft skill akan selalu lebih baik, sebaik menyeimbangkan otak kiri dan otak kanan daripada hanya mengandalkan salah satunya.

Semoga pembahasan dari saya ini berguna dan dapat melengkapi sharing-an dari blogger lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s