Anak Terlambat Menikah Salah Satu Bentuk Kegagalan Orang Tua?

marriageGeram dengan judul yang diatas? Take it easy! Jangan tersinggung dulu! Saya memang sengaja membuat judul yang kontroversial kali ini, anggap saja saya sedang belajar menulis🙂. Tapi coba renungkan, jika kita kembali ke masa lalu di era sebelum Indonesia mengalami krisis besar di tahun 1998, pasti kita menyadari bahwa kehidupan setidaknya lebih makmur daripada saat ini. Tidak usah jauh-jauh menilainya dari ruang lingkup politik ataupun teori-teori ekonomi yang “njelimet”, coba tanyakan keadaan muda-mudi yang tergolong intelek khususnya mahasiswa pada saat itu, mereka berani menikah muda sementara sang istri tidak bekerja. Tapi apakah keadaan makmur seperti itu bertahan selamanya? Tentu tidak!

Banyak orang tua yang dahulu pada zamannya bisa hidup enak akhirnya tergilas dengan berkembangnya zaman karena kesalahannya sendiri. Apa kesalahannya? Bukan…bukan… bukan karena mereka tidak disekolahkan tinggi sampai kuliah, bukan pula karena mereka malas bekerja, tapi karena mereka tidak mau mengembangkan diri, tidak tahu tujuan hidupnya, dan tidak tahu bahwa keadaan akan cepat berubah. Hingga pada akhirnya ketika mereka pensiun pun masih tidak tahu harus berbuat apa lagi, seakan hidupnya hampa. Kasian memang, karena yang mereka hasilkan terkadang sia-sia, seperti hanya menukar waktu dengan uang untuk kesenangan sesaat dan banyak dari mereka juga yang tidak berhasil.

Bukan karena mereka tidak disekolahkan tinggi sampai kuliah, bukan pula karena mereka malas bekerja, tapi karena mereka tidak mau mengembangkan diri, tidak tahu tujuan hidupnya, dan tidak tahu bahwa keadaan akan cepat berubah.

Rasa kasian kita terhadap mereka akan semakin bertambah besar jika kita melihat umur mereka yang semakin menua, tanpa kemandirian finansial yang baik dan tanpa kehadiran cucu karena anak-anaknya terlambat menikah, bukan karena sang anak tidak ingin menikah tapi karena menunda untuk menikah sampai sesuatunya berjalan baik secara finansial. Saya tahu banyak dari Anda yang bilang, “rugi tidak menikah muda!”, “Menikah adalah anugrah!”, “Punya istri dan anak mendatangkan rezeki!” Semua itu benar, tapi coba kita lihat dari sisi pendapat yang lain. Beberapa teman saya bercerita bahwa mereka menunda menikah hanya karena mereka perlu bekerja lebih giat untuk menghasilkan uang, hanya untuk membantu keadaan orang tua mereka yang tidak mandiri secara finansial. Mereka tidak mau asal “berkembang biak” (baca: luka psikologis), tetapi ingin memberikan yang terbaik buat anak-anaknya kelak, dengan kata lain mereka berpikir rasional dan tidak ingin mengulangi kesalahan orang tuanya. Hargailah jalan pikiran mereka, karena mereka seringkali terpaksa bekerja untuk uang dan mengorbankan kesenangan pribadi hanya untuk melihat orang tuanya hidup lebih baik, padahal mereka ingin sekali melakukan hal lain sesuai panggilan lentera jiwanya.

Jika kemudian yang terjadi sang anak terlambat menikah karena jelas alasannya adalah karena orang tua yang tidak mampu mandiri secara finansial di hari tuanya, padahal si orang tua ingin sekali punya cucu, maka siapa yang salah? Jangan dijawab, pertanyaannya yang salah! Seharusnya pertanyaannya siapa yang gagal? yang gagal jelas adalah si orang tua. Kenapa begitu? Karena “bisa saja”, sekali lagi “bisa saja” karena mereka egois sering kawin-cerai-kawin lagi, malas tapi senang-senang jalan terus sewaktu muda, salah pilih pasangan hidup, tidak punya perencanaan dalam berumah tangga tapi produksi anak terus, tidak bisa mendidik anak dengan baik, tidak mau berubah jadi lebih maju lagi, tidak mau belajar tapi keras kepala, terlalu penakut mengambil peluang yang datang padanya, tidak mau berpikir untuk memperbaiki hidup, terlalu gengsi dan sombong, suka pamer dengan harta sesaat padahal boros, bermulut besar dalam arti hanya berkata tapi tidak bertindak, merasa diri sudah pintar padahal tidak pernah belajar…STOP! Jika ada yang merasa kata-kata tersebut memojokkan Anda! Dan mulailah refleksi diri, bukannya marah! Saya katakan TIDAK AKAN ADA di dunia nyata yang berani berkata frontal sekeras demikian kepada Anda sampai Anda telat menyadarinya sendiri bahwa kegagalan mungkin sudah didepan mata, jadi sebelum itu terjadi alangkah baiknya kita sadar dan sama-sama belajar untuk memperbaiki hidup, demi generasi-generasi unggulan berikutnya. Harus generasi unggulan, supaya Indonesia bisa terus maju dan kembali makmur!

If you’re born poor, it’s not your mistake. But if you die poor, it’s your mistake – Bill Gates

Anda punya pendapat positif? Silahkan dituangkan dalam comment🙂

Disclaimer On: Mungkin apa yang saya utarakan disini tidak berlaku buat Anda, karena Anda hidup dilingkungan yang berbeda, Anda hidup dalam lingkungan mewah dan berkelimpahan, tapi cobalah melihat dari sisi yang lain, mungkin Anda akan bisa belajar memperoleh sesuatu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s